BREAKING NEWS

SMA Unggul Garuda di Maros Disiapkan Sebagai Ekosistem Riset Peternakan Nasional

 


 Jakarta — Pemerintah terus mematangkan pembangunan SMA Unggul Garuda sebagai bagian dari strategi penguatan pendidikan sains dan teknologi berbasis kawasan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie meninjau langsung dua calon lokasi pembangunan sekolah tersebut di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.


Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan dari aspek teknis, legalitas, serta potensi integrasi dengan ekosistem riset dan inovasi yang telah berkembang di wilayah tersebut.


“Ini adalah calon lokasi Sekolah Garuda. Kita menemukan lokasi yang sangat baik dengan pemandangan luar biasa. Namun yang lebih penting, di sini terdapat aktivitas riset yang sangat menarik, seperti inseminasi sapi untuk meningkatkan produksi susu segar dan kualitas genetik ternak di Indonesia,” ujar Stella dalam keterangan tertulis yang diterima Infopublik, Minggu (1/3/2026).


Pembangunan SMA Unggul Garuda dirancang tidak hanya sebagai fasilitas pendidikan menengah berkualitas tinggi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran yang terhubung langsung dengan kegiatan riset terapan.


Secara perencanaan awal, sekolah membutuhkan lahan sekitar dua hektare dengan kontur relatif datar guna menjamin keamanan dan efisiensi pembangunan. Area utama yang akan dibangun meliputi fasilitas akademik dan lapangan olahraga dengan kebutuhan lahan sekitar 1–1,5 hektare.


Pemilihan lokasi mempertimbangkan kesesuaian lingkungan belajar sekaligus peluang kolaborasi dengan fasilitas penelitian yang telah beroperasi di kawasan tersebut.


Dalam kunjungan itu, Wamen Stella juga meninjau fasilitas riset peternakan yang memiliki laboratorium produksi semen beku untuk sapi dan kerbau dengan standar nasional Indonesia (SNI). Fasilitas tersebut telah menjalin kerja sama dengan Universitas Hasanuddin dalam pengembangan teknologi reproduksi ternak.


Distribusi semen beku dilakukan ke berbagai kabupaten dan kota melalui petugas lapangan sebagai bagian dari program peningkatan populasi serta mutu genetik ternak nasional.


Teknologi Inseminasi Buatan (IB) menjadi salah satu contoh riset terapan yang dinilai relevan untuk mendukung pembelajaran berbasis sains. Satu pejantan unggul mampu menghasilkan hingga 10.000 straw per tahun. Dari satu kali ejakulasi sekitar 5 cc, dapat diproses untuk inseminasi 200–300 betina, dengan tingkat keberhasilan kebuntingan mencapai sekitar 75 persen—jauh lebih efisien dibandingkan metode kawin alam.  “Riset inseminasi sapi tadi sangat menarik karena berkontribusi langsung pada peningkatan produksi susu segar dan kualitas ternak nasional,” tambah Stella.


Melalui pembangunan SMA Unggul Garuda yang terintegrasi dengan fasilitas riset daerah, pemerintah menegaskan komitmen menghadirkan pendidikan unggul yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.


Model pendidikan berbasis ekosistem ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda dengan kapasitas sains, teknologi, dan inovasi yang kuat, sekaligus memperkuat konektivitas antara dunia pendidikan, riset, dan sektor produktif di daerah.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image