Pimpin REI Sulsel, H. Badris Salam Pasang Badan Kawal Program 3 Juta Rumah Presiden Prabowo
0 menit baca
Makassar — Estafet kepemimpinan DPD Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan akhirnya resmi berpindah tangan ke Haji Badris Salam. Di balik euforia pelantikannya di Hotel Grand Claro Makassar, Rabu (7/10/2026), terselip sebuah agenda nasional raksasa yang siap dieksekusi: Program 3 Juta Rumah gagasan Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai nakhoda baru pengembang di wilayah paling strategis Indonesia Timur untuk periode 2026-2029, Badris Salam dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk 'pasang badan'. Ia memastikan REI Sulsel akan berada di garda terdepan untuk menyukseskan mega-proyek hunian kerakyatan tersebut.
Sinergi Total: Pusat, Daerah, dan Perbankan
Dalam prosesi pelantikan tersebut, Ketua Umum DPP REI Joko Suranto menitipkan mandat yang sangat jelas kepada Badris. Joko meminta kepengurusan baru di Sulsel untuk tidak membuang waktu dan segera merajut sinergi taktis dengan pemerintah daerah (Pemda) maupun sektor perbankan.
Instruksi ini langsung direspons cepat oleh Badris. Pengusaha yang lahir dari kerasnya lapangan sebagai pekerja konstruksi ini paham betul bahwa Program 3 Juta Rumah tidak akan berjalan tanpa adanya sinkronisasi regulasi di daerah.
"Fokus kami adalah memperkuat kemitraan dengan instansi terkait untuk mempermudah perizinan usaha bagi para anggota. Kita harus mendorong percepatan pembangunan rumah subsidi maupun komersial berkualitas bagi masyarakat," papar H. Badris Salam penuh determinasi.
Akselerasi Hunian Subsidi di Sulsel
Untuk menopang target 3 Juta Rumah dari Presiden Prabowo, pasokan hunian bersubsidi (MBR) di Sulawesi Selatan harus digenjot secara masif. Di bawah komando Badris—yang didampingi Sekretaris Umum Ridwan Djabir Patiwir dan Bendahara Imran Rahmadi Putra Yusran—REI Sulsel telah menyiapkan formula khusus.
Selain melakukan lobi birokrasi pemangkasan retribusi perizinan, REI Sulsel juga akan menginjeksi kapasitas para pengembang lokal di berbagai kabupaten/kota. Harapannya, mesin produksi rumah subsidi tidak hanya terpusat di kawasan aglomerasi Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar), tetapi merata hingga ke pelosok daerah.
"Tantangan industri properti ke depan sangat dinamis. Namun dengan percepatan penyediaan hunian, kita tidak hanya menyediakan tempat bernaung bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan multiplier effect (efek ganda) yang akan menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di Sulsel," pungkasnya.
Langkah taktis H. Badris Salam kini dinanti. Di tangannya, asa jutaan masyarakat Sulawesi Selatan untuk memiliki hunian layak yang digaransi oleh program Presiden Prabowo Subianto, kini mulai menemukan titik terangnya.
